Thursday, 25 August 2016

See you (again)

Background pendidikan ternyata tidak sepenuhnya sejalan dengan pekerjaan yang akan dihadapi. Nyatanya, kenyataan hidup akan membawa kita ke arah yang berbeda dengan ilmu  latar belakang pendidikan kita. Namun, ilmu kehidupan yang kita peroleh semenjak lahir, keluarga,  bangku sekolah, bangku kuliah, dunia kerja dan dunia luar akan membawa kita memahami bahwa hidup tak slalu yang kita inginkan. Menghadapi kenyataan hidup kita juga tak boleh "sak klek" .

Sunday, 10 July 2016

Mu to the dik 🔙

Pertama kali merasakannya.
Holiday over.
Kembali?

Tawa anak kecil
Riuh bercanda tak sadar tempat
Tertawa lepas tanpa beban
Berteriak tanpa peduli orang lain berkata apa.
Bersenda gurau tanpa memperhatikan lingkungan sekitar.
Aku terganggu? Tidak sama sekali.
Tapi, rasanya aku iri.
Mereka bisa saling bercanda tanpa mengenal sebelumnya.
Hanya karena satu gerbong.
Mereka bisa tertawa bahagia tanpa kebohongan.
Mereka bisa bercanda tanpa kemunafikan.
Ya, mereka JUJUR, POLOS, GAK MUNAFIK.
Rasanya sekarang ini susah menemukannya. Sulitnya berelasi dengan dua sisi kepribadian. Lama mengenal tak jaminan mengenal kepribadiannya. Apalagi baru saja mengenal. Dia berkata tak melaksanakan. Dia berbicara tapi tak konsekuen. Dia berjanji tak ditepati.
Bahagianya jadi anak kecil. Keceriaan mereka tulus. Tangisan mereka jujur. Sikap mereka polos. Bicara mereka tak munafik.😊😊😊

Saturday, 16 January 2016

People Come and Go

Masih ingat dulu berkas yang dikumpulkan tak dibubuhi tandatangan. Maklum masih pemula. Tapi, ternyata kalo rejeki ngga akan kemana.Tapi, kalau ngga kemana-mana juga ngga bakal dapat rejeki. hehehe

Berawal dari itu lah, dunia kerja pertama yang ku kenal. Dunia baru, yang mirip dengan background pendidikan, tapi tak sepenuhnya.

Awalnya, Adaptasi dengan lingkungan merupakan modal utama aku bertahan. Berikutnya,  adalah semangat "aku pasti bisa" merupakan modal utama untuk terus berjuang. Hingga sudah waktunya Allah berkata "kembali",  "berhenti" dan "pulang". Semangatku yang membara karena masih bisa melihat senyum bahagia orang tua. Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan. 😊

Berkenalan dengan orang baru.  Sering berbincang-bincang, akrab. Dan, akhirnya berpisah. Mungkin memang siklus kehidupan harus begitu. Akan ada yang datang dan pergi. Yang stay (tinggal) pun belum tentung akan benar-benar menetap,  suatu saat pasti akan "pergi".

People Come and Go

Ya, saat itu aku melihat rekan kerja yang keluar. Dan tiba saatnya aku pula yang keluar. Meninggalkan kisah dan cerita. Pertemanan, Persahabatan,  dan Persaudaraan yang pasti sangaat bernilai. Banyak hal yang kudapatkan, banyak hal yang diajarkan kepadaku. Arti menghargai dan mengendalikan diri.


Terimakasih. 😊


Friday, 20 November 2015

Mengamati sekitar

Sebuah percakapan antara pasien dan seorang dokter. Lebih dan kurangnya dapat diuraikan sebagai berikut. Mari perhatikan dengan cermat dan saksama.
Dokter : "Apa keluhannya?."
Pasien : "Perut saya sakit dok. Diare juga udah dari kemarin" (Padahal baru diare beberapa kali aja batinnya)
Dokter : "Wah, cantik2 kok sakitnya diare." Sambil nulis resep beliaunya.
Pasien : " Perut saya juga panas lho dok. Semalam sakit banget kaya ada angin tp sakit"
Dokter : "Panas? Waa gejala tipes itu"
Sambil menjelaskan bagian2 perut yang sakit panas dan gejala serta diagnosa penyakit. Secara cukup rinci untuk dipahami.
Pasien : "Kalo kebanyakan duduk ngefek perutnya sering panas ga?"
Dokter : "iya, bisa. Jadi, biasakan 20-30 menit berdiri atau jalan2"
Pasien membatin kalo terus menerus kaya gt kerjaan ga selesai2.
Dokter menulis obat untuk perut ga enak.
Pasien:  "Tp saya juga diare lho dok."
Dokter : "Apa iya? Wah, stress berat ya? Mikirin apa? " Sudah diduga, pasti menjurus ke pacar.
Tapi si pasien beda stress yang dialami dengan diagnosa dokter yang pacar warna warni. :-D
Pasien : "Emm, stress ........" #sensor
Dokter : "........ apasih?"
Pasien : "Badan saya juga sering lemas banget dok "
Singkat cerita, dokter menuliskan resepnya. Disuruh makan teratur. Dan tidak lupa memberi surat ijin.
Ternyata ada keterkaitan antara sakit perut (panas), diare, lemas,  stress dan rutinitas. :-/

Friday, 6 November 2015

Sutradara vs Penulis

Aku (atau Kita) hanya (ibarat) penulis yang mengetuk-etukan jari-jemari diatas papan ketik dengan alur yang aku inginkan dan aku harapkan. Rasa-rasanya segala isi naskah cerita ini terasa sangat sempurna atau mendekati sempurna untuk dijalani. Yang penulis tau, cerita tersebut yang ia butuhkan. Akhirnya proses pembuatan film akan dimulai. Pertama, Allah (ibarat Sang Sutradara) akan membaca naskah yang kubuat. Begitu banyak harapan dalam naskah tersebut. Harapan yang hanya diketahui oleh  penulis dan sang sutradara, karena film belum dibuat. Sutradara-lah yang mengurangi atau menambah setiap isi dalam naskah cerita adar dapat menjadi naskah film. Sutradara pasti telah mempertimbangkan dengan segala hal segala aspek. Banyak penulis yang setuju dengan naskah film yang telah dibuat oleh sutradara. Namun, banyak juga penulis yang tak setuju. Menggerutu, naskah cerita yang kubuat bukan seperti itu. Tapi, penulis sebenarnya tak tau apa yang menjadi pertimbangannya. Bagaimana keadaan di industri film. Bagaimana supaya film menjadi menarik. Bagaiman film tersebut memiliki masalah dan kemudian dapat diselesaikan. Bagaimana film tersebut dapat Happy Ending. Bagaimana film tersebut dapat lulus sensor. Dan hingga akhirnya film tersebut dapat ditayangkan. Seluruh penonton atau yang akan menonton atau bahkan tidak menonton akan turut memberi komentar dengan film tersebut. Sehingga, penulis cerita dan sutradara yang mengarahkan film dengan segala konsekuensi tersebut. Oleh karena itu, tak usah peduli dengan omongan orang yang hanya ingin menjatuhkan. Perhatikan kritik yang membangun pada naskah ataupun film mu. Kritik yang saran membantumu lebih dan lebih baik. JADI,sutradara tau apa yang terbaik untuk bersama. ALLAH punya rencana lain, tapi ngga bilang-bilang dulu. :)